KETIKA POHON MELAMBAIKAN DAUNNYA KARYA MEYSHA KELAS 4


 KETIKA POHON MELAMBAIKAN DAUNNYA

TEMA   : MENJAGA BUMI

KARYA : MEYSHA KELAS 4

              Namaku Myesha Khaliqa Prastya, siswa kelas 4 SD NEGERI 3 JATIPRAHU. Aku tinggal di desa jatiprahu Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek. Dulu semasa kakekku masih hidup pernah bercerita tentang asal usul Desa jatiprahu. Secara singkat desa jatiprahu berasal dari kata “jati” yang artinya pohon jati dan “prahu” yang artinya perahu. Dengan ini bisa diartikan didesaku banyak pohon jati yang sangat besar-besar dan juga bisa digunakan untuk membuat prahu.Sehingga dinamakan desa jatiprahu. Bisa kubayangkan pohon-pohon tinggi berdiri setiap pagi seperti penjaga bumi dan burung-burung bernyanyi setiap pagi. Rindangnya, teduhnya, hijaunya desaku kala itu.

              Tapi itu dulu, sekarang bila aku memandang sekeliing rumahku, jangankan pohon jati. Pohon pelindung yang lainpun tidak tampak menjulang tinggi. Aku terdiam sejenak, dimana aku bisa mencari dan melihat pohon-pohon tinggi itu. Kini semua telah berubah menjadi hamparan tanah coklat dan bangunan-bangunan yang indah. Jalanan semakin ramai dan juga udara terasa lebih panas dari biasanya. Saat siang hari aku sering merasa gerah meskipun sudah di dalam rumah. Ibu juga pernah berkata bahwa air sumur telah berkurang tidak seperti dulu yang selalu penuh dan melimpah. Sawah dan ladang kering kerontang.

              Suatu malam, saat hujan turun diiringi gemercik air yang jatuh. Aku bermimpi. Dalam mimpiku membawaku ke cerita kakek kala itu. Aku berada di Tengah hutan yang lebat. Cahaya bulan menembus sela-sela daun, seolah-olah semua pohon yang menjatuhkan daunnya sambil berbisik. Angin berhembus lembut membuat dedaunan bergoyang pelan seperti tangan yang sedang menyapa.

              “Myesha…” Angin berhembus lembut seperti bisikan angin diikuti pohon yang menjatuhkan daunnya.

              “Myesha…” Aku menoleh kesegala arah, tetapi tidak melihat siapapun. Hanya pohon yang melambai-lambaikan dauunya.

              Dalam pikiranku di tempat ini apa semua pohon bisa berbicara jika manusia mau mendengarkan? “Apakah pohon memanggilku dengan lambaian daunnya.”

              Aku kembali melihat pohon yang melambaikan daunnya. Aku mendengar suara itu lagi. “Jika manusia terus menebang pohon, sungai akan mengering, tanah akan longsor, banjir dimana-mana bahkan akan terjadi kebakaran hutan. Manusia akan menanggung akibatnya.

              Aku berjalan perlahan di antara pepohonan. Tiba tiba kulihat seekor burung kecil bertengger di dahan. Burung itu terlihat gelisah seolah mencari tempat tinggal. Dibawahnya, tanah yang retak dan daun daun berserakan. Hutan yang semula hijau, perlahan berubah menjadi gersang. Diujung hutan dari tambah api berkobar-kobar menyambar ranting dan dedaunan yang sudah kering. Semakin lama apipun mendekatiku. Aku sangat ketakutan. Aku merasa sedih melihatnya. Aku ingin melakukan sesuatu. tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

              Hatiku tersentak hebat,pada saat itu aku bangun karena suara petir. Hatiku langsung berkata “Apa yang harus kulakukan” aku teringat dengan kata-kata guruku. “Perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil. Kumulai dengan menghijaukan sekolahku bersama teman-temanku. Setiap hari sabtu di sekolahku diadakan kerja bakti dan penghijauan dengan menanam tanaman pelindung, hias, juga sayur-sayuran. Masing masing kelas diberi tugas untuk membawa barang bekas yang bisa digunakan untuk menanam dan juga media tanah. Hatiku senang sekali bisa melakukan hal kecil di sekolahku. Tidak lupa kusayangi dengan kurawat setiap hari, kusirami,dan ku beri pupuk. Selalu kuperhatikan pertumbuhannya, apa yang  dibutuhkannya. Aku sangat puas dan senang hatiku melihat tanamanku subur dan menghijau.

              Saat siang hari yang terik datang beberapa kupu-kupu yang sangat cantik dan indah mengintipku dari luar pintu kelasku. Kupu-kupu merasakan seperti tinggal di istana penuh bunga dan enggan beranjak pergi dari pandanganku. Kupu-kupu berjanji padaku akn datang setiap hari. Di sekeliling kupu-kupu poho melambaikan daunnya seolah mengucapakan terimakasih padaku dan teman-temanku. Aku lebih bersemangat merawat tanamanku dan teman-temanku. Sekolahku menjadi asri, hijau, indah.

              Kini usaha kecil kami menunjukkan hasil walaupun terbatas pada sekolahku. Akhirnya usaha kecil kami membawa ke Adiwiyata tingkat kabupaten. Semoga kedepannya bisa membawa sekolahku ke Adiwiyata tingkat nasional bahkan Adiwiyata mandiri

1 Komentar

  1. keren sekali Meysha.. tetap smengat terus berkarya

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama